Gua Jatijajar
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
|
Artikel
ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam,
atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini.
Untuk
keterangan lebih lanjut, klik [tampilkan] di bagian kanan.[tampilkan]
|
|
|
Artikel
ini tidak memiliki referensi sumber terpercaya sehingga isinya tidak bisa diverifikasi.
Bantulah memperbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus. |
Gua
Jatijajar adalah
sebuah tempat wisata berupa gua alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur.
Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250
meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan
ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut
50 meter.
Daftar isi
Sejarah
Gua ini
ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang
Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil
rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah
lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai
garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.
Pada mulanya
pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi
dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Gua yang sekarang untuk masuk. Karena di
muka pintu Gua ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka gua tersebut
diberi nama Gua Jatijajar (Versi ke I).
Sungai dan mitos
Di dalam Gua
Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai
dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu:
- Sungai Puser Bumi
- Sungai Jombor
- Sungai Mawar
- Sungai Kantil
Untuk sungai
Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk
segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar
konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet
muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka
niat/cita-citanya akan mudah tercapai.
Pada saat
ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan
Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada
penerangan serta licin.
Obyek wisata
Pada tahun
1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun
yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Bapak
Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang
menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.
Untuk
melancarkan dan melaksanakan pengembangan Gua Jatijajar ditunjuk langsung oleh
Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS
adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia.
Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Gua Jatijajar, terlebih dahulu
Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi
pembangunan Objek Wisata Gua Jatijajar Seluas 5,5 hektare.
Setelah Gua
Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Gua
Jatijajar dibangun, di dalam Gua Jatijajar sudah ditambah dengan
bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai
penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang
masuk ke dalam Gua Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.
Batuan
Di dalam Gua
Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan
antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari
endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang
ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu
membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit
paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar
merupakan gua Kapur yang sudah tua sekali.
Batu-batuan
yang ada di Gua Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur
yang sudah tua sekali itu, maka di muka Gua Jatijajar dibangun sebuah patung
Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Gua Jatijajar, dari
mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang
sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino
Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa
Jatijajar dan sekitarnya.
Diorama
Diorama yang
di pasang dan dalam Gua Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang
patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari
"Raden Kamandaka - Lutung Kasarung". Adapun kaitannya dengan Gua
Jatijajar ialah, dahulu kala Gua Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh
Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan
Pajajaran, yang
bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.
Perlu
diketahui bahwa zaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah
termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor
(Batutulis) Jawa Barat.
Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan dioramanya dipasang di dalam Gua Jatijajar.
Gua Petruk : Salah Satu Goa Terindah Dan Alami Di Indonesia
Saturday, 09
July 2011 10:08

|
Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa
yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala
lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia
|
KEBUMEN - Gua Petruk merupakan salah Obyek wisata di Kabupaten
Kebumen. Obwis (obyek dan Pantai Logending, dimana lokasinya berada di dukuh
Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, atau sekitar 4,5
km dari Jatijajar menuju ke arah selatan.
Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung.
Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung.
Konon, dalam cerita pewayangan, Petruk ini anak dari
lelembut Banaspati yang kemudian diambil anak oleh Ki Semar dan Petruk ini
dikenal mempunyai banyak akal.
Sayangnya orang telah banyak mendengar Goa Petruk, tetapi masih enggan untuk mengunjungi obyek wisata tersebut. Cukup beralasan barang kali, memang karena untuk masuk Goa Petruk ini diperlukan persiapan yang cukup. Lagi pula, percuma kalau datang ke Goa Petruk ini hanya mengintip dari mulut Goa yang menganga cukup lebar.
Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia.
Sayangnya orang telah banyak mendengar Goa Petruk, tetapi masih enggan untuk mengunjungi obyek wisata tersebut. Cukup beralasan barang kali, memang karena untuk masuk Goa Petruk ini diperlukan persiapan yang cukup. Lagi pula, percuma kalau datang ke Goa Petruk ini hanya mengintip dari mulut Goa yang menganga cukup lebar.
Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia.
Namun Goa Petruk ini menurut catatan Doktor Koo,
seorang pakar Goa dari luar negeri mengatakan, bahwa Goa Petruk ini merupakan
Goa terindah di seantero Nusantara.
Untuk itu, pakar Goa ini meminta pada Pemda Kebumen, agar Gua tersebut tetap dijaga kealamiannnya. Bahkan, untuk diterangi dengan listrik, juga tak diperkenankan.
Untuk itu, pakar Goa ini meminta pada Pemda Kebumen, agar Gua tersebut tetap dijaga kealamiannnya. Bahkan, untuk diterangi dengan listrik, juga tak diperkenankan.
Namun pengunjung jangan khawatir, di sini tersedia
Guide atau pemandu yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu
yang memadai.
Tiga Goa
Tiga Goa
Goa Petruk ini sebetulnya terbagi menjadi tiga bagian
:
- Bagian pertama atau di lantai I hanya terdapat kelelawar dengan bau kurang sedap dan beterbangan ke sana kemari.
- Untuk Goa kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Goa Semar.Dalam Goa inilah kita akan disuguhi dengan pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Bahkan ada yang mengatakan, masuk Gua Petruk laksana melihat alam yang tiada taranya karena terdapat batu stalaktit dan stalagmit yang mempesona dan menyerupai berbagai bentuk.
- Sedang gua yang terakhir, disebut Goa Petruk, karena dalam Goa tersebutlah sebetulnya terdapat batu yang mempunyai ujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan phosfat, hidung Petruk yang merupakan Logo dari Goa tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.
Tapi bukan itu sebetulnya yang ditawarkan oleh goa
tersebut, di mana keindahan goa tersebut bukan dari hidung Petruk yang sangat
mancung, tetapi panoramanya yang memang cukup indah.
Untuk itu tidak ada salahnya kalau wisatawan bahkan
memerlukan waktu berjam-jam berada di Goa Petruk ini.(lik/kebumenkab)
